Perjalanan 2025 — Melihat Apa Adanya

Lama banget ya dari terakhir kali nge-post di blog ini. Jujur aja, sebenernya banyak banget yang berisik di kepala—pengen dicurahin jadi tulisan. Kayaknya itu juga yang dari awal jadi coping mechanism gue bikin blog ini. Tapi ya mau gimana lagi, di era dewasa—cielah, dewasa—banyak hal keburu ketiban hal lain sebelum sempat diproses. Apalagi gue tipe yang prosesnya internal dulu, baru bisa jadi tulisan kalau udah kelar. Eh, kok… beda konsep ya? Hahahaha.

Jadi gini. Tema 2025 ini baru ketemu ternyata di akhir tahun. Iyalah, kejadian dulu dong. Emang kita siapa bisa milih tema dari awal tahun? Wkwk.

Gue tuh inget lagunya Ghea, judulnya Berdamai. Ada potongan lirik yang bunyinya:

“Berhenti marah pada dunia, jika segalanya dikabulkan kau akan lupa caranya berdoa.”

Kalimat itu rasanya pas banget buat ngegambarin perjalanan 2025 gue. Tahun ini bukan tentang dapet apa, tapi tentang belajar ngeliat sesuatu apa adanya.

Gue orang yang gampang mengidealisasi. Hampir nggak pernah nerima sesuatu secara mentah. Gue kebiasa baca ulang realitas: nada bicara orang, arah pandang matanya, ekspresi wajahnya, jeda di kalimatnya, sampai kemungkinan makna tersembunyi di balik satu pernyataan sederhana. Otak gue jarang berhenti decode. Dan setiap kali realita nggak sejajar sama skenario di kepala gue, yang muncul bukan marah—tapi sedih dan kosong.

Belakangan, gue akhirnya nemu istilah paling sederhana buat pola itu: obeng tetaplah obeng. Kalau fungsinya buat muter sekrup, ya pakai sebagai obeng. Dia nggak diciptakan buat motong sayur. Mau siapa pun yang megang, mau sekeras apa pun usahanya, obeng nggak akan berubah jadi pisau.

Masalahnya, selama ini gue percaya obeng sebenernya bisa. Gue mikir, mungkin dia cuma nggak mau waktu itu. Mungkin kalau gue cukup sabar, cukup pengertian, cukup konsisten, obengnya bakal berevolusi. Gue kasih waktu. Gue amplas. Gue poles. Gue nunggu. Tapi setelah semua effort itu, fungsinya tetap sama.

Dan di situlah gue sadar: bukan obengnya yang salah, dan bukan gue yang kurang. Gue cuma salah naruh harapan di alat yang emang nggak punya kapasitas buat itu.

Kesadaran soal batas kapasitas ini jujur asing buat gue. Sejak lama gue hidup dengan keyakinan kalau selama ada kemauan, segalanya mungkin. Nggak ada kamus “batas” di kepala gue. Jadi pas realita nolak, gue selalu nganggepnya kegagalan personal—padahal sering kali itu cuma hukum fungsi bukan sebab akibat.

Bab idealisasi itu akhirnya ketutup setelah terlalu banyak kekecewaan yang konsisten. Bukan karena gue berhenti berharap, tapi karena gue mulai berharap secara presisi.

Lucunya, titik sadar ini datang dari sesuatu yang kelihatannya receh: baca soal human design. Rasanya kayak selama ini gue jalanin hidup tanpa pernah baca buku manualnya. Hidup tetap jalan, iya. Tapi berat, banyak gesekan, dan sering bikin salah orang, salah ekspektasi, salah posisi.

Dan tiba-tiba banyak hal jadi masuk akal. Oh, pantes gue gampang kecewa. Oh, pantes gue sering kelelahan emosional. Bukan karena gue salah, tapi karena gue ngoperasiin diri gue dengan cara yang nggak selaras.

Sejak itu, gue mulai belajar satu hal yang paling susah buat gue: nerima tanpa membaca terlalu jauh. Ngeliat sesuatu sebagaimana dia hadir. Kalau emang ada makna lain, nanti juga muncul sendiri. Gue nggak perlu maksa, ngebedah, atau nambal harapan di tempat yang kosong.

Ternyata berhenti mengidealisasi bukan berarti jadi dingin. Justru kebalikannya, gue jadi lebih jujur sama realita, dan sama diri gue sendiri.

Dan mungkin, di situlah doa gue berubah bentuk: bukan lagi minta dunia nyesuaiin diri sama gue, tapi minta gue cukup jernih buat ngeliat dunia apa adanya.


Comments

Popular posts from this blog

Sebelum sejauh matahari kita pernah sedekat nadi

The Ramen Sensei