Luka Biasa

Menurut ku ini hal langka, dengan sombong berkata luka ku paling menganga, setiap kata orang yang terbentuk dari rasa selalu tak tepat mengambarkan sakit kali ini.

Setiap kali membaca bait penuh bijak pelipur lara kubisikan dalam hati..

"Bohong, buktinya aku tetap merana"

Tidak, sebenar benarnya luka ini bukan apa apa. Sungguh hanya luka kecil dari patah hati biasa.

Manusiawi jika mengingat, katanya setiap mata berhak menahan air mata tapi kali ini tak kutahan katanya setiap hati berhak menahan perasaan tapi kali ini kubiarkan tak tertata

Miliyaran cerita lama mengggelantung, berputar tanpa peduli jiwa semakin tersudut. Menerawang, semacam kehilangan ruh untuk tersadar sudah berlalu ratusan detik.

Tidak juga, aku tak butuh kata kata patah hati untuk menyembuhkan, tak butuh perasaan senasib untuk merasa tak sendiri

Aku yakin ini pasti sering terjadi, ayolah siapa yang tak pernah berharap sampai hampir mati rasa? Tapi seakan Tuhan tak bergeming saat telah menaikan doa ke meja kerjaNya

Tetap, aku menyombong ini luka paling parah ini harapan paling patah ini cinta paling pasrah tak peduli bahwa banyak yang lebih luluh lantah, seakan jika ditukar peran, sanggup untuk luka lain walau menggenang nanah

Percayalah, ini hanya patah biasa bukan yang luar biasa sampai harus tahun gajah untuk mengikhlaskan segalanya

Comments

Popular posts from this blog

Sebelum sejauh matahari kita pernah sedekat nadi

The Ramen Sensei

Perjalanan 2025 — Melihat Apa Adanya