Aku Pernah Mencintai

Aku pernah mencintai, hampir muak pun aku sudah
Aku pernah mencintai, hingga lelah juga sudah menyerah
Aku pernah mencintai, beberapa bahkan puluhan kali memutar arah
Aku pernah mencintai, dibantai amarah ku pasrah
Aku pernah mencintai, seperti panah menancap daging menjadi nanah

Aku sudah hapal sakitnya, hingga jadi biasa, hingga jadi pencandu luka, mungkin suka bermain symphony duka berdarah darah

Dulu bagiku, asal tidak menyerah semuanya tak apa walaupun hati sudah habis terkikis, bagiku tak apa asal masih bisa ku perjuangkan, mati pun tidak terasa, toh nanti dia tumbuh lagi seperti ekor cicak

Bodohnya kukira dengan semua macam luka yg sudah tericicipi aku yakin bisa menjadi terbaik, setidaknya dalam versiku untuk mu

Bodohnya dengan percaya diri, macam - macam nyeri seperti nya tidak akan salah langkah karena sudah pernah ku jejaki sampai nyaris hilang arah

Tapi dengan mu aku kembali seperti belum pernah mengalah, belum pernah berjuang tak kenal lelah, belum tahu rasanya patah

Dengan mu egois ku kembali membuncah tidak ada kata biarlah, dan ternyata dicintai oleh mu bagiku lebih sulit ketimbang mencintai tuan sebelah, kadang aku jadi tidak mau tahu keadaan mu, kadang aku menginginkan semua waktu mu berjalan sesuai waktu ku tidak peduli kau terengah

Kamu tahu? Mungkin dicintai mu membuat ku sukar merasa bersyukur karena sudah jauh dari nestapa 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebelum sejauh matahari kita pernah sedekat nadi

The Ramen Sensei

Perjalanan 2025 — Melihat Apa Adanya